Hujan.. hujan..

bambam

Beberapa hari ini rasanya hujan selalu menghiasi suasana.. nggak hanya siang, malam pun hujan masih turun…  Seakan Langit sedang mengalami puber dan sedang jatuh cinta terhadap Bumi, dan setiap saat mengirimkan rayuan kata2 cintanya melalui tetesan air hujan setiap saat, tanpa kenal lelah…  Dan Bumi pun selalu menerima setiap kata, setiap kalimat, setiap syair cinta itu dengan tangan terbuka, dan seperti nggak akan pernah merasa bosan dengan belaian dan kata2 merayu itu…

Padahal, justru karena hujan yang turun dari Langit itu, Bumi seperti kehilangan pesona bagi para penghuninya… beberapa laporan berita tentang banjir menegaskan hal itu..  belum lagi banyaknya keluhan karena aktivitas2 yang terganggu akibat hujan yang turun dengan deras dan lama…

Ironis… hujan yang katanya merupakan syair cinta dari Langit kepada Bumi.. menjadi momok yang begitu menakutkan bagi sebagian besar orang, terutama warga Jakarta…  Takut akan hadirnya banjir di sebagian wilayah, baik perumahan maupun perkantoran.. takut akan terjadinya gangguan pada sarana publik, baik transportasi maupun komunikasi.. kekhawatiran akan terhambatnya rutinitas sehari-hari, seperti sekolah, bekerja, maupun nongkrong.. bahkan kengerian terjadinya angin puting beliung sempat2nya merasuk ke dalam pikiran…

Coba bayangkan ketika musim hujan belum tiba, atau bahkan telah berlalu… ketika panas matahari menyengat seperti nggak mau kompromi apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita lakukan.. ketika segelas minuman dingin pun belum tentu bisa mengusir dahaga.. ketika tanaman dan tumbuhan pun enggan memberikan manfaat kepada mahluk lainnya, karena mereka pun merasakan kehausan yang sangat.. betapa ketika saat itu kita berharap akan hujan…

Ah… hujan…

Sebenarnya.. salah siapakah kita takut terhadap dampak yang dibawa hujan, sementara di lain waktu sebenarnya kita menanti turunnya???  Apakah Langit bersalah, telah menyirami Bumi yang dicintanya dengan kalimat2 cinta??  Atau.. salahkah kami, wahai langit, yang telah melakukan perusakan di wajah kekasihmu ini dengan dalih kemajuan demi kemakmuran umat manusia???  Ada orang yang pernah berkata, kalo saya nggak salah kutip, bahwa pohon adalah pena, dan hutan adalah puisi cinta yang dituliskan Bumi kepada Langit.. namun kita tebang pohon, menggunduli hutan, menjadikannya kertas, dan menuliskan kehampaan di atasnya…  Jadi, apakah manusia bersalah, karena telah mencegah Bumi membalas syair2 pujian yang datang dari langit karena kita habiskan hutannya??  Mungkinkah hujan yang diberikan Langit kepada Bumi bukan merupakan kata2 rayuan, tapi merupakan kemurkaan Langit terhadap Bumi yang udah jarang, hampir nggak pernah lagi mengirimkan puisi cinta, bahkan malah memberikan ejekan dan hinaan kepada Langit dalam bentuk polusi??  Atau, mungkin saja hujan yang terus menerus dan mendatangkan sekian banyak musibah ini merupakan hukuman bagi kita yang diberikan oleh Langit karena telah menyakiti dan menodai Bumi yang selama ini menjadi kekasihnya…

Mana yang benar??  Siapa yang salah???

Nggak perlu lagi main salah2an seperti anak kecil.. lebih baik mikir dan merenung apa yang akan kita lakukan saat ini dan berikutnya di masa yang akan datang.. karena janji Langit kepada Bumi tanah air kita akan selalu ditepati, bahwa dalam setiap tahunnya akan datang musim bercinta bergantian dengan musim dahaga.. lebih baik kita bersiap diri, kalo nggak mau dibilang berpasrah diri, menghadapi rencana sepasang kekasih, Langit dan Bumi…

Ah… hujan…

Daripada pusing dan bingung mikirin persediaan celana dalam bersih yang makin sedikit karena cucian nggak kering2… daripada ngedumel dan marah2 sendiri karena seluruh tubuh basah tersiram hujan dan beberapa rencana terpaksa dibatalkan… mari..!!  Lebih baik kita berkemul dan bersantai ditemani keluarga, sahabat, dan kerabat.. menikmati secangkir minuman hangat kesukaan masing2.. menyaksikan kelanjutan kisah cinta sepasang kekasih hasil karya Sang Pencipta, Langit dan Bumi… hmm…


10 Responses to “Hujan.. hujan..”

Leave a Reply